Film Horor Indonesia: Dekonstruksi Elemen Berulang Legenda Perkotaan Indonesia untuk Revitalisasi Budaya, Kreativitas, dan Pemikiran Kritis

film

Abstrak

Saat ini, film tetap menjadi media utama untuk hiburan publik. Dari sekian banyak genre film di Indonesia, horor masih menjadi yang paling populer. Sayangnya, film horor Indonesia kurang memperhatikan aspek kreatif cerita tetapi fokus pada sinematografi, menghasilkan pertunjukan berulang yang sering mengikuti template saham. Cerita biasanya dimulai dengan pindah ke rumah kosong, tersesat di hutan, dan dihantui oleh hantu perempuan. Meski begitu, film horor seperti ini dituntut untuk mendorong pemikiran kritis dan kreatif para pengamat dan produser film. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membahas unsur disruptif melalui cerita berulang dalam film horor yang mampu membuka peluang munculnya interplay kreatif dan relevansinya dengan pendidikan kreatif melalui film horor di Indonesia. Penelitian ini menggunakan perspektif Maruska Svasek tentang transit dan transisi yang akan membedah fenomena budaya dalam film horor Indonesia. Selain itu, sudut pandang dari Derrida digunakan untuk mendekonstruksi pemikiran berulang oleh penonton film untuk menunjukkan demythologization yang terjadi dalam film horor saat ini. Data diambil dari studi literatur film horor Indonesia dengan keterbatasan temporal 2017-2019. Data juga dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan decoding-encoding milik perspektif Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya cerita berulang disebabkan oleh minat masyarakat Indonesia terhadap cerita legenda perkotaan yang legendaris. Memanfaatkan legenda perkotaan sebagai gagasan utama cerita, melalui perspektif Svasek, menciptakan perhatian pada budaya yang memberikan kesempatan untuk pelestarian dan revitalisasi budaya.

1. Pendahuluan

Perkembangan film ini sangat pesat, dimulai dengan penemuan kamera lubang jarum, kemudian diikuti oleh kamera obscura sekitar tahun 1021 yang memungkinkan gambar bergerak tetapi tidak merekam. (Sugiharto,2013). Pada tahun 1830-an gambar bergerak mulai diproduksi melalui perangkat yang ditemukan oleh Simon von Stampfer, kemudian Josephplateu, William Horner, Eadweard Muybridge, Etienne-Jules Marey, Charles Francis, dan akhirnya Louis dan Auguste Lumiere melahirkan alat standar yang mampu menampilkan gambar yang hidup pada tahun 1895, dengan instrumennya dikenal sebagai sinematografi. Alat ini kemudian disempurnakan oleh Dickson dan Edison dengan penemuan mereka dari band seluloid pada tahun 1893. (Sinematograf Luar Biasa, 1894).

Film ini sekarang menyebar ke semua bidang kehidupan manusia. Dan hampir semua orang sekarang memiliki kesempatan untuk membuat film mereka, berkat dukungan teknologi yang juga berkembang dengan bentuknya yang semakin portabel seperti ponsel, tablet, laptop, kamera, dll.

Di bidang seni itu sendiri, film adalah fenomena yang kehadirannya sangat kuat, secara bersamaan – tentang bidang seni lainnya – posisinya sangat paradoks. Di satu sisi, film ini menggunakan dan meringkas semua bidang seni lainnya (seni, patung, sastra, tarian, musik, dll.), seperti lubang hitam yang menelan segala sesuatu itu sendiri; di sisi lain, film ini sebenarnya mampu juga mengekspos, menggarisbawahi orstrengthen bidang seni seni lainnya secara dramatis (Sugiharto,2013).

Sejak masuk ke Indonesia pada 1900-1920-an, film selalu mengalami naik turun. Dilansir dari beritasatu.com, (27/01/2018) 2018 bisa menjadi tahun film Indonesia. Hal ini dapat dinilai dari perkembangan yang cukup membingungkan. Jika dilihat dari jumlah penonton yang direkam pada 2016 hingga 2017.

Salah satu genre film, yaitu film horor menjadi magnet bagi pecinta film di tanah air karena menurut salah satu psikoanalisis, (Sigmund Freud) horor adalah tentang keinginan laten manusia di bawah sadar.

Namun sayangnya, film horor Indonesia tampak lebih berulang dan kurang memperhatikan aspek ceritanya. Cerita diawali dengan pindah rumah, di rumah kosong, hilang di hutan, menjadi korban, hingga hantu yang selalu menjadi wanita untuk menjadi sedikit contoh pengulangan dalam film horor di Indonesia.

Fenomena ini menjadi menarik untuk dilakukan pengamatan mendalam untuk mengetahui bagaimana unsur berulang film horor Indonesia sebagai media refleksi dan mendorong pemikiran kritis dan kreatif. Sehingga dapat memberikan peluang pelestarian dan revitalisasi budaya.

Untuk membahas dan membedah pertanyaan penulis menggunakan teori Maruska Svasek tentang transit dan transisi, maka sudut pandang Derrida juga digunakan untuk mendekonstruksi pemikiran berulang oleh pemirsa film untuk menunjukkan demythologization yang terjadi dalam film horor saat ini.

2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Cara ini sangat membantu karena film horor hanya bisa ditonton melalui media elektronik.

Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur film onhorror melalui akun YouTube Cincrybe dan komentar yang muncul di kolom komentar. Juga, ulasan langsung tentang film horor yang tayang pada 2017-2019. Kuesioner online juga digunakan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan selera masyarakat tentang film horor Indonesia.

Dalam penelitian ini menggunakan teori transit dan transisi oleh Maruska Svasek untuk membedah tentang budaya film horor Indonesia. Teori dekonstruksi oleh Derrida juga digunakan untuk mendekonstruksi pemikiran berulang oleh pemirsa film untuk menunjukkan demythologization yang terjadi dalam film horor saat ini. Decoding encoding dari Stuart Hall digunakan untuk menganalisis data dari kuesioner yang telah didistribusikan selama Juli 2019.

3. Diskusi

Film horor pertama yang dirilis di Indonesia berjudul Doea Siloeman Oelar Poeti en Item  1934 yang disutradarai oleh Then Teng Chun. Film ini berkiki isinya tentang dua setan yang ingin menjadi manusia. kemudian film horor berkembang pesat. Setelah film tersebut,  Terang Boelan  diproduksi oleh Nederlands Indie Film Syndicate dengan sutradara Albert Balink.

Tapi film horor kehilangan pesonanya dan bersinar lagi pada tahun 1971. Ini menjadi awal debut Suzanna dengan film Beranak dalam Kubur yang  menghasilkan keuntungan besar. Kemudian banyak film horor yang diproduksi pada 1976-1991.

Eksploitasi seksualitas perempuan juga mewarnai film hororIndonesia pada 1970-1990-an. Andincreasingly gila di tahun 2000-an. Bahkan artis porno asing menjadi aktor dalam film horor Indonesia. Di sisi lain, tempat-tempat menakutkan juga menjadi konsep film horor Indonesia tahun itu.

Masuk pada tahun 2017 film Horor mulai menghilangkan kesan pornografi yang terkait erat dengan film horor di tahun-tahun sebelumnya, ditandai dengan munculnya film Danur; I Can See Ghost  (2017) dan dilanjutkan dengan  Pengabdi Setan  (2017) yang merupakan remake dari  Pengabdi Setan  (1982). Konsep baru film horor Indonesia ini disambut antusias oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari jumlah penonton  Pengabdi Setan  (2017) yang mencapai 1,2 juta penonton.

Kemudian juga, film horor Indonesia kurang memperhatikan aspek kreatif cerita, melainkan pada jalan cerita, sinematografi, dan pertunjukan berulang, bahkan terkesan “template”. Misalnya, cerita yang dimulai dengan pindah rumah, rumah kosong, hilang di hutan, mengatur waktu malam yang tampaknya lebih lama daripada di sore hari, hingga menjadi korban. Dari 23 film horor yang dirilis pada 2017, setidaknya ada 7 film horor yang ceritanya berada di sebuah rumah kosong. Seperti film berjudul Ular Tangga  dan  Jailangkung.

Transit dan Transisi Elemen Berulang Film Horor Indonesia

Perspektif Maruska Svasek tentang transit dan transisi ada dalam bukunya Antropologi, Seni dan Produksi Budaya. Transit dan transisi adalah proses yang diekspresikan oleh Svašek sebagai berikut:

“Transit merekam lokasi atau pergerakan objek lembur dan di seluruh batas sosial atau geografis, sementara transisi menganalisis bagaimana makna, nilai, dan status objek tersebut, serta bagaimana orang mengalaminya, diubah oleh proses itu” (Svašek, 2007: 4).

Dari penjelasan di atas, transit adalah proses pemindahan objek (karya seni) yang dapat melintasi batas geografis wilayah ke batas-batas sosialnya. Sedangkan transisi lebih kepada proses pertukaran yang ada dalam nilai dan makna objek (karya seni).

Film horor Indonesia dengan unsur berulang memiliki sisi menarik untuk dibahas. Salah satu hal yang menarik adalah tentang proses menghilangkan fenomena budaya dari kehidupan masyarakat yang kemudian dikemas dalam film horor Indonesia. Atas dasar ini, para penulis melakukan studi kualitatif melalui kuesioner digital, yaitu google forms. Dari kuesioner penulis mendapatkan data berikut:

Dari 48 responden, sebanyak 93,8% usia 17-25 tahun, 4,2% usia 26-25 tahun, 2,1% usia 12-16 tahun, dan 0% usia 36 tahun ke atas. Berdasarkan profesi, mahasiswa menjadi profesi yang mendominasi responden yaitu 85,4%, diikuti profesi lain sebesar 6,3%, dan Pegawai Negeri Sipil dan Mahasiswa masing-masing 4,2%. Diagram di atas menunjukkan bahwa Pengabdi Setan  (2017) menjadi film horor Indonesia favorit sebanyak 33,3% dari 48 responden. Kemudian disusul  danur  sebanyak 23% dari 48 responden. Pengabdi Setan  (2017) adalah remake dari  Pengabdi Setan  (1982) dan Danur  adalah adaptasi dari novel Risa Sarawati dengan judul yang sama.

“Apa pendapatmu tentang film horor yang bagus dan menarik?”

“Film horor diadaptasi dari sebuah novel karena dapat menjadi representasi visual imajinasi saat membaca novel”

“Film horor yang terinspirasi atau bahkan dari kisah nyata masyarakat Indonesia, atau berasal dari mitos yang diceritakan turun turun di daerah tersebut”

“Berikan saran Anda untuk film horor Indonesia”

“Saya pikir perlu ada cerita rakyat seperti dulu ketika ada film Susana, sekarang pandangan film selalu asing, sehingga citra rasa Indonesia menghilang, padahal kita memiliki kekuatan karakter dari cerita rakyat”

“Buat movie horor dengan tema urban legend diIndonesia. Karena kisah-kisah masa lalu diturunkan dari generasi ke generasi. Sehingga anak muda saat ini dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah ini”

Survei di atas menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan movie horor yang mengangkat legenda urban Indonesia karena dapat dianggap sebagai pelajaran berharga bagi anak muda saat ini yang mendominasi penonton movie horor Indonesia. Juga, movie horor yang diadaptasi dari novel menarik perhatian penonton karena dianggap sebagai deskripsi visual pembaca novel.

Dari data di atas, urban legend telah menjadi fenomena budaya yang telah berpindah dari kehidupan masyarakat menjadi movie horor Indonesia. Perpindahan legenda perkotaan dari kisah mulut ke mulut masyarakat Indonesia menjadi movie horor Indonesia merupakan bentuk transit. Sedangkan perubahan nilai atau makna urban legend dari masyarakat menjadi movie horor Indonesia merupakan bentuk transisi.

Contoh lain dari konsep transit dan transisi dalam movie horor Indonesia. Misalnya proses transit dan transisi ke tokoh perempuan dalam movie hororIndonesia. Dalam kehidupan nyata, wanita selalu identik dengan kesan sensualitas. Namun ketika wanita ditampilkan dalam movie horor, kesan sensualitas perlahan memudar digantikan oleh kesan mistis yang membuat penonton selalu menebak karakter wanita yang muncul dalam movie adalah sosok hantu. Hal ini terjadi karena dalam movie horor Indonesia selalu menunjukkan perempuan sebagai hantu.

Pendidikan Kreatif dan Berpikir Kritis melalui Unsur Berulang dalam Film Horor Indonesia.

Dekonstruksi adalah teori yang dikemukakan oleh Jacques Derrida. Hal yang paling menarik tentang pemikiran Derrida adalah tentang bagaimana Derrida dapat menggambarkan dan mengubah pemikiran manusia terhadap dunia. Dalam mengubah pemikiran, menurut Derrida itu juga berarti mengubah teks narasi, dan teks itu sendiri adalah realitas kehidupan manusia. Ini berarti bahwa dalam mengubah realitas seseorang perlu terlebih dahulu memahami dan menggambarkan kenyataan itu. Dua konsep tersebut yaitu deskripsi/deskripsi (transformasi) dan transformasi/transformasi (transformasi) dapat digabungkan menjadi dekonstruksi. Dan dekonstruksi pada akhirnya adalah strategi interpretasi (Madison, 1998).

Jika kita kembali ke unsur berulang dalam movie horor seperti yang dibahas penulis sebelumnya, ketika direkonstruksi menggunakan teori Derrida, itu akan membuat elemen berulang dalam movie horor Indonesia penting karena dapat menunjukkan pendidikan kreatif di masyarakat. Misalnya, penulis akan menunjukkan hasil survei sebagai berikut:

movie horor Indonesia akhir-akhir ini banyak yang menarik dan sangat bagus, tetapi beberapa movie horor mengedit movie begitu kasarsehingga kesan horor menjadi keanehan dalam movie dan menjadi buruk, dan juga banyak elemen Romanceso bahwa kesan horor tidak terasa dan tidak disampaikan kepada penonton”

“Terkadang movie horor Indonesia memiliki sedikit elemen pornografi yang khawatir mereka akan memiliki efek buruk pada anak di bawah umur”

Dari komentar-komentar tersebut, penulis mencoba menarik kesimpulan anonim, yang merupakan apresiasi atas perkembangan movie horor Indonesia saat ini. Juga, anonim menyoroti elemen pornografi yang ditampilkan oleh movie horor Indonesia, yang dianggap tidak baik untuk anak di bawah umur. Kemudian muncul pemikiran kritis bersama dengan movie horor di saluran YouTube dengan kritik dan ulasan movie. Seperti komentar netizen berikut ini:

“Jika lukanya ada di dalam, kenapa kau membaluhi, f** k lol”

“Mungkin pembuatmovie sengaja membuat movie horor, bukan dari cerita dan hantu. tapi kengerian dalam bertindak. Menyeramkan”

“Ketika para eksekutif movie mengatakan: “mendukung movie Indonesia”, tetapi mereka tidak pernah berpikir untuk meningkatkan kualitas dan terus mencari kuantitas atau mencari keselamatan. apa lagi movie horor yang sedang tren. hanya membuat movie 10 detik, lampu rumah tiba-tiba mati, kemudian ada suara, dan jumpscare. Saya yakin mereka yang menonton bisa 200 ribu lebih”

Dari tiga komentar di atas, dapat dilihat bahwa masyarakat sangat jeli dalam memperhatikan perkembangan movie horor Indonesia, masyarakat dapat mengevaluasi kekurangan dalam movie berdasarkan selera, penalaran, dan pengalaman mereka, di sinilah proses berpikir kritis terjadi. Unsur berulang dalam movie horor Indonesia dapat merangsang orang untuk dapat berpikir kritis. Kemudian pendidikan kreatif terjadi ketika seorang sutradara ingin mendengarkan dan membaca komentar masyarakat, dan kemudian mengevaluasi pekerjaan mereka, sehingga pekerjaan di masa depan dapat menjadi pekerjaan yang lebih baik.

4. Kesimpulan

movie horor Indonesia mengalami naik turun sejak kemunculannya dan hampir setiap dekade telah mengubah konsep tersebut. Mulai dari movie horor yang mengangkat legenda perkotaan Indonesia hingga unsur seksualitas yang melekat dalam movie horor Indonesia. Ada beberapa hal yang tidak dipertimbangkan dalam movie horor Indonesia, yaitu kurang memperhatikan aspek kreatif cerita, tetapi lebih pada alur cerita, sinematografi, dan pertunjukan berulang, bahkan terkesan “template”.

Fenomena ini menjadi menarik untuk dilakukan pengamatan mendalam untuk mengetahui bagaimana unsur berulang movie horor Indonesia sebagai media refleksi dan mendorong pemikiran kritis dan kreatif. Sehingga dapat memberikan peluang pelestarian dan revitalisasi budaya. Dengan menggunakan teori dari Maruska Svasek tentang transit dan transisi, maka sudut pandang Derridais juga digunakan untuk mendekonstruksi pemikiran berulang oleh pemirsa movie untuk menunjukkan demythologization yang terjadi dalam movie horor saat ini.

Selain itu, dari metode penelitian yang digunakan penulis, yaitu studi literatur tentang movie horor melalui akun YouTube Cincrybe dan komentar yang muncul di kolom komentar, serta ulasan langsung movie horor yang tayang pada 2017-2019, dan kuesioner digital, kami mendapatkan data bahwa urbanlegend Indonesia adalah favorit masyarakat Indonesia, usia 17-25 tahun adalah usia yang mendominasi , dan ternyata masyarakat sangat jeli dalam mengamati perkembangan movie horor Indonesia, masyarakat mampu mengevaluasi kekurangan dalam movie berdasarkan selera, penalaran, dan pengalamannya -pikiran.

Dari data di atas, urban legend telah menjadi fenomena budaya yang telah berpindah dari kehidupan masyarakat menjadi movie horor Indonesia. Perpindahan legenda perkotaan dari kisah mulut ke mulut masyarakat Indonesia menjadi movie horor Indonesia merupakan bentuk transit. Sedangkan perubahan nilai atau makna urban legend dari masyarakat menjadi movie horor Indonesia merupakan bentuk transisi.

Dilihat dari teori Dekonstruksi Derrida, unsur berulang dalam movie horor Indonesia dapat merangsang orang untuk dapat berpikir kritis. Kemudian pendidikan kreatif terjadi ketika seorang sutradara ingin mendengarkan dan membaca komentar masyarakat, dan kemudian mengevaluasi pekerjaan mereka, sehingga pekerjaan di masa depan dapat menjadi pekerjaan yang lebih baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya cerita berulang disebabkan oleh minat masyarakat Indonesia terhadap kisah legenda perkotaan yang legendaris. Penggunaan legenda perkotaan sebagai gagasan utama cerita, melalui perspektif Svasek, menciptakan perhatian pada budaya yang memberikan peluang untuk pelestarian dan revitalisasi budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *